Jakarta, 27 Maret 2026 — Industri musik Indonesia kembali menghadirkan wajah baru melalui project musik bernama DAUR, sebuah band yang mempertemukan tiga musisi berpengalaman yang sebelumnya telah malang melintang di berbagai label nasional.
DAUR beranggotakan Ferdy (vokal), Ajung (gitar), dan Rey (keyboard)—tiga musisi yang pernah aktif bersama band masing-masing sebelum akhirnya kembali berkumpul dalam satu project baru.
Ferdy sebelumnya dikenal sebagai vokalis band Davinci, yang sempat bernaung di label My Music dan aktif di industri musik Indonesia pada periode 2010 hingga 2015. Ajung merupakan gitaris yang pernah bergabung dengan Andika & D'Ningrat di bawah label Halo Entertainment Indonesia (HEI) pada periode 2018 hingga 2020. Sementara Rey merupakan keyboardist yang pernah aktif bersama Saleena, band yang berada di bawah label Nagaswara pada tahun 2014 hingga 2016.
Setelah melalui perjalanan musik yang berbeda-beda, ketiganya kini kembali ke industri musik melalui project DAUR di bawah naungan label dan manajemen MST Music.
Menariknya, proyek ini dibentuk sekaligus diproduseri oleh Reza Lukita Apriadi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Masitong, musisi yang dikenal sebagai founder sekaligus vokalis utama dari band Batas Senja. Kehadiran Masitong memberi warna tersendiri pada konsep musikal DAUR yang mengedepankan lirik sederhana, hangat, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai langkah awal, DAUR merilis single perdana berjudul “Lagu Rayu.” Lagu ini ditulis langsung oleh Masitong dan mengangkat kisah sederhana namun sangat relatable tentang seseorang yang mencoba merayu pasangannya yang sedang marah.
Salah satu bagian lirik yang langsung mencuri perhatian adalah:
“Gimana kalau kita liburan dulu
Ke tempat yang konon katanya di situ
Ada lumba-lumba lucu
Dan airnya biru.”
Rayuan sederhana tersebut menjadi gambaran bagaimana seseorang mencoba memperbaiki hubungan dengan cara yang ringan dan romantis.
Tak hanya itu, lagu ini juga menghadirkan sentuhan humor yang membuatnya terasa berbeda dari lagu cinta pada umumnya. Pada bagian refrain, DAUR menyelipkan perbandingan yang unik dan menghibur:
“Pantainya menawan
Oh persis wajahmu yang rupawan
Tapi jika marah mirip Sinchan.”
Lirik tersebut menjadi salah satu bagian paling mencuri perhatian karena menghadirkan humor yang jarang ditemukan dalam lagu pop romantis.
Menurut Masitong, pendekatan tersebut memang sengaja dihadirkan agar lagu terasa lebih dekat dengan realitas hubungan sehari-hari.
“Kadang dalam hubungan ada momen marah, kesal, dan salah paham. Tapi sering kali semuanya bisa kembali cair hanya dengan sedikit humor dan usaha untuk meminta maaf,” ungkap Masitong.
Dengan aransemen pop yang ringan serta pendekatan lirik yang jujur dan jenaka, “Lagu Rayu” menghadirkan warna baru yang segar. Lagu ini tidak hanya berbicara tentang romantisme, tetapi juga tentang dinamika hubungan yang sering dialami banyak orang—tentang kesalahan kecil, permintaan maaf, dan usaha sederhana untuk kembali membuat orang yang kita sayangi tersenyum.
Melalui single perdana ini, DAUR berharap musik mereka dapat menjadi teman bagi banyak orang yang pernah merasakan situasi serupa dalam hubungan.
Single “Lagu Rayu” kini telah tersedia dan dapat didengarkan di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan platform streaming lainnya.
"Di Distribusikan oleh Sintesa Pro'